Sabtu, 19 Oktober 2013

Bersamamu ku gantungkan mimpiku



Malam sudah sangat larut,semilir angin diluar sana pun telah memainkan senandung tidur,agar mata mata yang lelah seharian terlelap di peristirahatannya.Hingga kota ini sunyi seperti kota tanpa penghuni.Tapi kenapa tidak denganku?Dua kelereng hitam ini masih saja bergelinding kesana kemari padahal sedikitpun aku tak menjentiknya.Telah aku coba memejamkannya tapi tetap tak bisa,kelopak mataku seolah ada benda kecil yang menahan agar dia tetap kembali terbuka.
Kegelisahan inilah yang mengatur otakku,untuk tidak mengirim pesan istirahat ke mataku.Kegelisahan ini juga menghentakkan hati ku menjadi sebuah pemikiran hinggaku  di hinggapi insomnia akut malam ini.Duduk,berdiri telah ku lakukan sekian kali tapi tetap tak menenangkanku.Mataku mencari apa saja yang bisa membawaku ke alam bawah sadarku.Hingga akhirnya mata ku berhenti tepat pada sebuah tulisan di atas tempat tidur. Bermimpilah! Maka Allah akan memeluk mimpi-mimpimu. Bukankah Dia mengisyaratkan dalam firman-Nya: "berdo'alah, maka Aku akan mengabulkannya"
Ku pandangi lagi,ku baca satu persatu kata.Tepat dibawah kata tersebut tertata rapi tulisan tentang mimpi mimpiku,yang di tulis berurutan nomor.Ada coretan merah pada beberapa nomor,itu pertanda bahwa mimpi itu telah terjadi,terus ku baca dan tepat di nomor 33 air mata ku berlinang.Bukan karena angka itu ganjil atau angka itu aneh tapi karena di sana tertulis sebuah mimpi besarku                 
33. Melanjutkan Kuliah Di Universitas Negeri di Solo dengan beasiswa.
Kenapa harus di Solo Yan?” Tanya Kakak yang tiba tiba bangun dan mengagetkan ku.
“Uni kan tahu sejak kecil Yanti suka sekali mendengar kata Solo,kotanya indah,asri,ramai tapi ramah indak seperti kota gadang lainnyo” Kuceritakan semua kekagumanku akan kota itu.
“Itu kan yang kamu dengar sajo Yan,sedangkan kau indak pernah ke sana” Uni Venti seolah menyindirku.
“Benar Uni,tapi ambo suko bana samo kota itu.Indah,bagus dan asri.Nanti akan Yanti buktikan samo uni” Jelasku lagi
“Tapi apa kamu tidak tahu adat desa kito Yan?Anak gadisnyo indak boleh menuntut ilmu terlalu jauh dari desanyo.Karena bagi mereka.Makonyo uni kuliah hanyo di sekitar Sumbar sajo.Sedangkan begini sudah salah juo bagi orang orang itu.Perempuan tugasnya hanya didapur sajo kato mereka.Lihatlah,Upik,Dewi,Puti,Nilam dan Hani teman SD kau dahulu.Sekarang mereka telah sibuk mengurus anak dan suaminya.Tamat SMP pun indak mereka itu.” Uni Venti mulai bercerita padaku.
“Akh tapi Yanti ingin melanjutkan kuliah,perempuan itu harus mendapat ilmu dan pendidikan yang samo dengan laki laki agar hidup perempuan itu indak di injak injak kaum laki laki ni.”Kata ku bak kata seorang ibu kartini,emansipasi.
Ya benar,emansipasi di butuhkan di desa ku ini.Karena di desa ku perempuan di larang mendapat pendidikan yang tinggi.Melanggar adat namanya jika membiarkan anak gadis di desa itu pergi keluar kota apalagi keluar provinsi Sumbar.Hanya kakak dan aku saja anak gadis di sini yang melanjutkan ke bangku Universitas,kakak sudah semester akhir di salah satu Universitas Negeri di sini.Dan aku sebentar lagi akan mengecap bangku kuliah juga.
“Tapi apo kamu sudah yakin,Yan?”Katanya lagi.
“Iyo,biar sajo lah kata mereka.Yang penting aku bisa mendapat ilmu,agar bisa seperti perempuan perempuan di kota kota lain Uni.Alasan mereka melarang anak gadisnyo keluar kota agar terhindar dari pergaulan yang menyesatkan seperti saat sekarang ini.Itu memang baik Uni,tapi jika hal tersebut ikut mematikan ilmu di kalangan perempuan tentu salah.Agama kito sajo menyuruh untuk menuntut ilmu,bahkan Hadist Nabi saja Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri Cina.Jadi indak ado salahnyo kan?”Jelasku lugas,membuat Uni Venti terdiam.
“Iyo.Semoga mimpi kamu itu terwujud Yan.Sudahlah ayo kito tidur.Sudah malam,besok kau harus kemas kemas barang dan uni juga kuliah.Yang penting sekarang kito belajar sajo yang rajin dan kau hati hati di rantau orang”Kata Uni Venti sebelum ia beranjak untuk tidur.
“Ini semua karena seseorang yang telah membangun motivasi yang kuat dalam diri ku ni” Gumamku pelan.
Memoriku kembali berputar setahun yang lalu
☼☼☼
“Kamu nak lanjut kuliah kamano Van?”Ujarku saat melihat Yovan sibuk mengerjakan soal UN tahun lalu di rumahku sore itu.
“Aku mau lanjut ke ITB,Yan seperti bapak Habibie.Nanti setelah itu aku mau kerja dan kuliah lanjut di luar negeri.” Ucap Yovan optimis tanpa memandangku.Kemudian ia sibuk lagi dengan soal di tangannya.
“Apa kau indak takut misalnya kalau di larang abak samo amak kau?Kan di keluarga kau lah anak laki laki bungsu.Yang nantinya akan mengurus ladang dan ternak orang tua kau?” Tanya ku semakin ingin tahu.
“Ndak Yan,bukankah guru kito bilang pendidikan itu untuk semua golongan dan seperti Hadist Nabi Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri Cina?.Nah jadi untuk apo aku takut.Lagian aku ni anak laki laki minang.Urang bujang minang indak boleh duduk duduk sajo di rumah.Tapi hendaknya merantau ke negeri orang,agar bisa mambangkik batang tarandam,manghapus arang di kaniang.” Lagi lagi ucapan Yovan penuh optimis,itu terlihat dari otot wajah dan tangannya menegang bak memberi semangat,sosok mata yang tajam dan ada sedikit guratan senyum halus di wajahnya juga membuktikan ia siap.Dan ia kemudian hanyut lagi dalam soal soal itu.
“Ternyata mimpimu lebih indah dari aku Van”Ucapku pelan agar kekagumanku padanya tak terlihat.
Sejak hari itu aku suka dengan kata kata motivasi yang di ucapkannya,entahlah dia dapat darimana semua kata kata itu.Albert Enstein,Bejamin Franklin,Barac,Mario Teguh, Andrie Wongso,alm Uje,orang besar lainnya yang aku lupa namanya dan tak ketinggalan kata kata Bapak Penjaga Sekolah kami di jadikannya sebagai kereta pendorong saat ia kesusahan mendaki lembah lembah yang sulit.
“Tulislah mimpimu nak,maka allah akan memeluk mimpimu.Bukankah Allah telah berfirman
"berdo'alah, maka Aku akan mengabulkannya"Jangan sampai kau menyesal nantinyo”
Begitu lah gayanya siang itu sepulang sekolah saat menirukan kata kata Pak Jon,penjaga sekolah kami.
“Kau lucu Van,sungguh pandai kau menirukan Pak Jon tapi sayang kau terlalu jangkung untuk di samakan samo Pak Jon” Ledekku sambil tertawa cekikikan membayangkan wajah pak Jon di adaptasi Yovan.Sungguh menggelikan,Yovan yang jangkung,berhidung mancung,berpotongan rambut cepak dan berkulit lumayan putih untuk ukuran laki laki pada umumnya di adaptasikan dengan Pak Jon yang bertubuh bantet,hitam manis dan berambut gondrong.Hm..kolaborasi yang aneh.Aku tertawa lepas memikirkannya.
“Hush..kau ini anak gadis Yan,indak boleh galak begitu.Indak baik pandangan orang” Ujarnya memandangku tajam.Dan membuat tawaku jadi tertahan.
“Maaf,habisnyo lucu sajo kalo membayang kalau kau jadi Pak Jon”Jawabku sambil tersenyum simpul.
“Kau ini ado ado sajo,Yanti.
Kau tahu ndak?Aku sangat terkesima sekali mendengarkan nasehat Pak Jon tadi.” Katanya mulai dengan semangat yang seolah melebihi panas matahari saat ini.
“Tentang mimpi mimpi itu?Akh percaya sajo kau,.Hanya dengan menulis mimpi mimpi itu menurut kau bisa terwujud?”Sanggahku karena mustahil bagiku menulis impian dan nanti akan terwujud.
“Jika kita menulis mimpi mimpi kita dan menempelkannya pada tempat yang mudah terlihat tentu akan menjadi penyemangat kita untuk meraihnya.Karena Allah saja menyuruh kita untuk melakukan yang terbaik dan jangan jadi remaja islam yang pemalas. Orang sukses punya semangat seganas gelombang lautan & tekad sekeras baja. Sebelum sukses tidak akan mundur! ~ Andrie Wongso”Jawaban Yovan membawa semangat baru untukku.
Aku masih saja tertegun menyaksikan sendiri semangat yang membakar dirinya.
“Ayo kita tulis impian kita!”Teriaknya optimis dan mulai berjalan ke atas bukit di samping rumahku. Ku ikuti saja langkahnya.
“Hal gila apalagi yang akan dilakukannya”Gumamku dalam hati.
 “Yan..ayo cepat”Ujarnya saat langkahku mulai kendor mendaki bukit yang cukup tinggi
“Iya,,”Jawabku dengan tarikan nafas cepat.
“Ini pena,ini kertas..Ayo ambil,Tulislah impianmu”Kata Yovan sesaat sampai di puncak bukit itu.
“Akh kau punyo berapo nyawa?Atau kau mau membunuhku..Aku ingin berhenti sejenak.Penat sekali aku.Belum sempat aku istirahat sudah kau suguhkan dengan imajinasimu”Ku buang pena dan kertas yang di beri.Ini benar benar menjengkelkan.
Belum lepas penatku,belum beraturan nafasku.Sudah di suruhnya ikut ide gila itu.Untuk mengikutinya naik ke bukit ini sudah lebih bagus,daripada membiarkan dia naik sendiri.Tapi sekarang malah dia menyuruhku untuk menulis hal yang mustahil itu.
“Maaf Yan.Aku bukan bermaksud begitu,tidak kau lihat matahari sudah mulai redup, mendung sudah terlihat.Takutnya kita kehujanan di sini.Apa kata orang nanti.” Yovan mencoba menenangkanku.
“Ya sudah,kau istirahatlah dulu.Aku sajo yang menulis dahulu” Ucapnya memungut kertas dan pena yang ku buang itu.Tangannya mulai asyik mencoret kertas itu,memadupadakan  huruf demi huruf yang di rangkainya menjadi kata bahkan kalimat.
“Desa kita indah ya Van kalo di lihat dari sini.Baru kali ini aku kesini” Ucapku padanya yang tengah berkutat pada mimpi mimpinya.
“Iyo,aku kalau lagi bosan menghabiskan waktu di sini

“Sudah selesai”Ucapnya sesaat kemudian.
Ku pandangi kertas putih tadi sudah penuh dengan coretan gilanya,entahlah itu apa.Di berikannya padaku.Mulai ku baca satu per satu,banyak mimpi yang ku temukan di sana.Kuliah di ITB jurusan pertambangan,mimpi dan tinggi mimpi itu menurutku.
“Yakinkah kau akan mimpi kau ini?” Tanyaku ragu akan hal ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar