Malam sudah sangat
larut,semilir angin diluar sana pun telah memainkan senandung tidur,agar mata
mata yang lelah seharian terlelap di peristirahatannya.Hingga kota ini sunyi
seperti kota tanpa penghuni.Tapi kenapa tidak denganku?Dua kelereng hitam ini
masih saja bergelinding kesana kemari padahal sedikitpun aku tak menjentiknya.Telah
aku coba memejamkannya tapi tetap tak bisa,kelopak mataku seolah ada benda
kecil yang menahan agar dia tetap kembali terbuka.
Kegelisahan
inilah yang mengatur otakku,untuk tidak mengirim pesan istirahat ke
mataku.Kegelisahan ini juga menghentakkan hati ku menjadi sebuah pemikiran
hinggaku di hinggapi insomnia akut malam
ini.Duduk,berdiri telah ku lakukan sekian kali tapi tetap tak menenangkanku.Mataku
mencari apa saja yang bisa membawaku ke alam bawah sadarku.Hingga akhirnya mata
ku berhenti tepat pada sebuah tulisan di atas tempat tidur. Bermimpilah! Maka Allah akan memeluk
mimpi-mimpimu. Bukankah Dia mengisyaratkan dalam firman-Nya: "berdo'alah,
maka Aku akan mengabulkannya"
Ku pandangi lagi,ku
baca satu persatu kata.Tepat dibawah kata tersebut tertata rapi tulisan tentang
mimpi mimpiku,yang di tulis berurutan nomor.Ada coretan merah pada beberapa
nomor,itu pertanda bahwa mimpi itu telah terjadi,terus ku baca dan tepat di
nomor 33 air mata ku berlinang.Bukan karena angka itu ganjil atau angka itu
aneh tapi karena di sana tertulis sebuah mimpi besarku
33.
Melanjutkan Kuliah Di Universitas Negeri di Solo dengan beasiswa.
“Kenapa
harus di Solo Yan?” Tanya Kakak yang tiba tiba bangun dan mengagetkan ku.
“Uni kan tahu sejak
kecil Yanti suka sekali mendengar kata Solo,kotanya indah,asri,ramai tapi ramah
indak seperti kota gadang lainnyo” Kuceritakan semua kekagumanku akan kota itu.
“Itu
kan yang kamu dengar sajo Yan,sedangkan kau indak pernah ke sana” Uni Venti
seolah menyindirku.
“Benar Uni,tapi ambo
suko bana samo kota itu.Indah,bagus dan asri.Nanti akan Yanti buktikan samo uni”
Jelasku lagi
“Tapi apa kamu tidak
tahu adat desa kito Yan?Anak gadisnyo indak boleh menuntut ilmu terlalu jauh
dari desanyo.Karena bagi mereka.Makonyo uni kuliah hanyo di sekitar Sumbar
sajo.Sedangkan begini sudah salah juo bagi orang orang itu.Perempuan tugasnya
hanya didapur sajo kato mereka.Lihatlah,Upik,Dewi,Puti,Nilam dan Hani teman SD
kau dahulu.Sekarang mereka telah sibuk mengurus anak dan suaminya.Tamat SMP pun
indak mereka itu.” Uni Venti mulai bercerita padaku.
“Akh tapi Yanti ingin
melanjutkan kuliah,perempuan itu harus mendapat ilmu dan pendidikan yang samo
dengan laki laki agar hidup perempuan itu indak di injak injak kaum laki laki
ni.”Kata ku bak kata seorang ibu kartini,emansipasi.
Ya benar,emansipasi di
butuhkan di desa ku ini.Karena di desa ku perempuan di larang mendapat
pendidikan yang tinggi.Melanggar adat namanya jika membiarkan anak gadis di
desa itu pergi keluar kota apalagi keluar provinsi Sumbar.Hanya kakak dan aku
saja anak gadis di sini yang melanjutkan ke bangku Universitas,kakak sudah
semester akhir di salah satu Universitas Negeri di sini.Dan aku sebentar lagi
akan mengecap bangku kuliah juga.
“Tapi apo kamu sudah
yakin,Yan?”Katanya lagi.
“Iyo,biar sajo lah kata
mereka.Yang penting aku bisa mendapat ilmu,agar bisa seperti perempuan
perempuan di kota kota lain Uni.Alasan mereka melarang anak gadisnyo keluar
kota agar terhindar dari pergaulan yang menyesatkan seperti saat sekarang
ini.Itu memang baik Uni,tapi jika hal tersebut ikut mematikan ilmu di kalangan
perempuan tentu salah.Agama kito sajo menyuruh untuk menuntut ilmu,bahkan
Hadist Nabi saja Tuntutlah Ilmu sampai ke negeri Cina.Jadi indak ado salahnyo
kan?”Jelasku lugas,membuat Uni Venti terdiam.
“Iyo.Semoga mimpi kamu
itu terwujud Yan.Sudahlah ayo kito tidur.Sudah malam,besok kau harus kemas
kemas barang dan uni juga kuliah.Yang penting sekarang kito belajar sajo yang
rajin dan kau hati hati di rantau orang”Kata Uni Venti sebelum ia beranjak
untuk tidur.
“Ini semua karena
seseorang yang telah membangun motivasi yang kuat dalam diri ku ni” Gumamku
pelan.
Memoriku kembali
berputar setahun yang lalu
☼☼☼
“Kamu nak lanjut kuliah
kamano Van?”Ujarku saat melihat Yovan sibuk mengerjakan soal UN tahun lalu di
rumahku sore itu.
“Aku mau lanjut ke
ITB,Yan seperti bapak Habibie.Nanti setelah itu aku mau kerja dan kuliah lanjut
di luar negeri.” Ucap Yovan optimis tanpa memandangku.Kemudian ia sibuk lagi
dengan soal di tangannya.
“Apa kau indak takut
misalnya kalau di larang abak samo amak kau?Kan di keluarga kau lah anak laki
laki bungsu.Yang nantinya akan mengurus ladang dan ternak orang tua kau?” Tanya
ku semakin ingin tahu.
“Ndak Yan,bukankah guru
kito bilang pendidikan itu untuk semua golongan dan seperti Hadist Nabi Tuntutlah
Ilmu sampai ke negeri Cina?.Nah jadi untuk apo aku takut.Lagian aku ni anak
laki laki minang.Urang bujang minang indak boleh duduk duduk sajo di rumah.Tapi
hendaknya merantau ke negeri orang,agar bisa mambangkik batang
tarandam,manghapus arang di kaniang.” Lagi lagi ucapan Yovan penuh optimis,itu
terlihat dari otot wajah dan tangannya menegang bak memberi semangat,sosok mata
yang tajam dan ada sedikit guratan senyum halus di wajahnya juga membuktikan ia
siap.Dan ia kemudian hanyut lagi dalam soal soal itu.
“Ternyata mimpimu lebih
indah dari aku Van”Ucapku pelan agar kekagumanku padanya tak terlihat.
Sejak hari itu aku suka
dengan kata kata motivasi yang di ucapkannya,entahlah dia dapat darimana semua
kata kata itu.Albert Enstein,Bejamin Franklin,Barac,Mario Teguh, Andrie Wongso,alm
Uje,orang besar lainnya yang aku lupa namanya dan tak ketinggalan kata kata
Bapak Penjaga Sekolah kami di jadikannya sebagai kereta pendorong saat ia
kesusahan mendaki lembah lembah yang sulit.
“Tulislah mimpimu
nak,maka allah akan memeluk mimpimu.Bukankah Allah telah berfirman
"berdo'alah,
maka Aku akan mengabulkannya"Jangan sampai kau menyesal nantinyo”
Begitu lah
gayanya siang itu sepulang sekolah saat menirukan kata kata Pak Jon,penjaga
sekolah kami.
“Kau lucu
Van,sungguh pandai kau menirukan Pak Jon tapi sayang kau terlalu jangkung untuk
di samakan samo Pak Jon” Ledekku sambil tertawa cekikikan membayangkan wajah
pak Jon di adaptasi Yovan.Sungguh menggelikan,Yovan yang jangkung,berhidung
mancung,berpotongan rambut cepak dan berkulit lumayan putih untuk ukuran laki
laki pada umumnya di adaptasikan dengan Pak Jon yang bertubuh bantet,hitam
manis dan berambut gondrong.Hm..kolaborasi yang aneh.Aku tertawa lepas
memikirkannya.
“Hush..kau
ini anak gadis Yan,indak boleh galak begitu.Indak baik pandangan orang” Ujarnya
memandangku tajam.Dan membuat tawaku jadi tertahan.
“Maaf,habisnyo
lucu sajo kalo membayang kalau kau jadi Pak Jon”Jawabku sambil tersenyum
simpul.
“Kau ini
ado ado sajo,Yanti.
Kau tahu
ndak?Aku sangat terkesima sekali mendengarkan nasehat Pak Jon tadi.” Katanya
mulai dengan semangat yang seolah melebihi panas matahari saat ini.
“Tentang
mimpi mimpi itu?Akh percaya sajo kau,.Hanya dengan menulis mimpi mimpi itu
menurut kau bisa terwujud?”Sanggahku karena mustahil bagiku menulis impian dan
nanti akan terwujud.
“Jika kita
menulis mimpi mimpi kita dan menempelkannya pada tempat yang mudah terlihat
tentu akan menjadi penyemangat kita untuk meraihnya.Karena Allah saja menyuruh
kita untuk melakukan yang terbaik dan jangan jadi remaja islam yang pemalas.
Orang
sukses punya semangat seganas gelombang lautan & tekad sekeras baja.
Sebelum sukses tidak akan mundur! ~ Andrie Wongso”Jawaban Yovan membawa
semangat baru untukku.
Aku masih
saja tertegun menyaksikan sendiri semangat yang membakar dirinya.
“Ayo kita
tulis impian kita!”Teriaknya optimis dan mulai berjalan ke atas bukit di
samping rumahku. Ku ikuti saja langkahnya.
“Hal gila
apalagi yang akan dilakukannya”Gumamku dalam hati.
“Yan..ayo cepat”Ujarnya saat langkahku mulai
kendor mendaki bukit yang cukup tinggi
“Iya,,”Jawabku
dengan tarikan nafas cepat.
“Ini
pena,ini kertas..Ayo ambil,Tulislah impianmu”Kata Yovan sesaat sampai di puncak
bukit itu.
“Akh kau
punyo berapo nyawa?Atau kau mau membunuhku..Aku ingin berhenti sejenak.Penat
sekali aku.Belum sempat aku istirahat sudah kau suguhkan dengan imajinasimu”Ku
buang pena dan kertas yang di beri.Ini benar benar menjengkelkan.
Belum
lepas penatku,belum beraturan nafasku.Sudah di suruhnya ikut ide gila itu.Untuk
mengikutinya naik ke bukit ini sudah lebih bagus,daripada membiarkan dia naik
sendiri.Tapi sekarang malah dia menyuruhku untuk menulis hal yang mustahil itu.
“Maaf
Yan.Aku bukan bermaksud begitu,tidak kau lihat matahari sudah mulai redup,
mendung sudah terlihat.Takutnya kita kehujanan di sini.Apa kata orang nanti.”
Yovan mencoba menenangkanku.
“Ya
sudah,kau istirahatlah dulu.Aku sajo yang menulis dahulu” Ucapnya memungut
kertas dan pena yang ku buang itu.Tangannya mulai asyik mencoret kertas
itu,memadupadakan huruf demi huruf yang
di rangkainya menjadi kata bahkan kalimat.
“Desa kita
indah ya Van kalo di lihat dari sini.Baru kali ini aku kesini” Ucapku padanya
yang tengah berkutat pada mimpi mimpinya.
“Iyo,aku
kalau lagi bosan menghabiskan waktu di sini
“Sudah
selesai”Ucapnya sesaat kemudian.
Ku
pandangi kertas putih tadi sudah penuh dengan coretan gilanya,entahlah itu
apa.Di berikannya padaku.Mulai ku baca satu per satu,banyak mimpi yang ku
temukan di sana.Kuliah di ITB jurusan pertambangan,mimpi dan tinggi mimpi itu
menurutku.
“Yakinkah
kau akan mimpi kau ini?” Tanyaku ragu akan hal ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar