Langit sepertinya tegah ingin gambarkan
kelam.Angin sedari tadi datang menderu deru,menusuk-nusuk tulang dan
daging.Petir mengaum sekeras kerasnya,mencari gendang telinga lalu menggetarkan
dengan hebat.Dan air langit tumpah juga,tanpa gerimis mula mula,tumpah ruah di
pohon,daun,rumah bahkan juga jalanan desa.Bau hujan pun menyeruak seketika dari jendela kaca kamar,bau tanahnya
mengajak bola mataku bercinta dengan daun bunga keladi merah kecil di bawah
jendela.Ribuan titik hujan langit yang turun namun tak sepenuhnya dedaunan itu
basah,sungguh ku menggilai saat bulir bulir hujan didaunan itu perlahan bak
bioskop kecil,mengeja video bahkan film tentang dia,pria yang ku gilai tepat
setelah hujan di bulan Mei.
Hujan seolah tak bisa
terhenti,daun anak keladi merah itu hilang daya,tak ada pegangan
sekitarnya.Hanya satu daun saja yang masih mengembang,namun kini menjadi
sedikit tumbang karena air air langit ini tak berhenti turun berebut bahkan merekah
tepat di kelopak mataku,pelan butir itu mengalir seiring ingatanku tentang
dia,menumpuk,membesar,lalu terlepaskan.Rindu sudah,sakit sudah.Menghujamkan
sendu pada tanah basah.
Mengapa Tuhan??aku
ingin bertanya padaMu yang katanya ada dimana mana.Yang katanya sempurna memberi
jawaban,namun aku masih belum mampu mencari jawabMu.Aku yang kurang mengerti
ini,hingga membuatku menangis sedih,teramat sedih malah.Ini entah scenario seperti
apa yang menilisik padaku,menyeka nyeka ujung mataku pada pria biasa yang Kau gambarkan
sempurna padaku.
Lihatlah,kini keladi
itu mulai bergetar,beringsut sedikit demi sedikit,sungguh air langitMu masih
menghujam dan mengganas.Mengikuti seruan desah pilu,bagaimana nasib cintaku??
sibuk di pertanyakan hal gila yang aku sendiri membunuhnya dengan diam lalu
sepi atas jawaban yang ku temukan tadi saat cerah siang memeluk bumi.Saat
priaku mengelus kepalaku,lalu tersenyum.
“Cepat tamat kuliah ya
dik”Lesung pipinya yang hilang timbul itu tiba tiba mencekung,sungguh membuatku
mati pada rasa takjub sesaat.Manis!
“Ya abang doakan saja
ya”Aku gemetar pada aliran yang aneh.
“Abang pergi dulu dik”
Ujung-ujung jari priaku bergerak melambai,ayun langkahnya mulai memutar
pergi.Ku nikmati kepergian laki laki yang tak mampu ku jelaskan seperti apa
senandung rasaku untuknya,tubuh tegapnya mematikan,bayangan dirinya saja seolah
membentuk senyum padaku,juga pada matahari yang saat itu bersinar syahdu, sungguh
oase yang meluluh lantakkan akal mudaku.Entah kenapa bayangan itu kembali mendekat,kini
ujung jarinya telah bersinggungan dengan ujung jariku.
“Ada yang ingin abang
bilang pada adik.”Bola matanya berlarian tanpa arah,suaranya berat mengeja
kata.Wajahnya terlihat gusar.Kamu kenapa wahai priaku?Apa yang mengganggu
pikiranmu?Siapa yang tega menyakitimu?Beruntun pertanyaan mulai mengambang
dalam benakku.Sungguh tak seorangpun boleh memamerkan gigi gingsul itu.Tidak
seorangpun boleh membuat mata sipit itu membesar,bahkan berair. Karena dia,pria
yang ingin ku hormati dengan segenap jiwa,yang ku agungkan setelah agungMu dan
ayahku.
“Apa bang?”Gumamku
pelan.
“Abang sebentar lagi
nikah dik,abang sudah sama sama sayang,orang tua kami juga sudah saling setuju.Hanya
saja kemarin abang belum mapan makanya belum bisa merajut suatu pernikahan,tapi
sekarang abang merasa tak bisa tanpa dia”
Glekk!!! Darahku
berdesir hebat,mengalunkan degup jantung yang riuh.Sungguh menyita tempat sedih
lalu torehan luka yang teramat besar tepat pada alur yang tak tentu.Di pelupuk
mataku telah menganak sungai tangis yang mungkin pecah,hatiku terpompa seakan
membesar untuk siap meledak,lidahku kelu,lumpuh seketika.
“Sela,,maa..tt
bang,semoga bahagia dan dia yang terbaik” Gerakan pita suaraku melambat, bahkan
terdengar seperti bisikan.
Angin lembut
memilukan,udara segar menyakitkan.Tubuhku gemetar menahan berat badan yang
seakan melemah,.Tidak,.aku tidak akan menangis di depannya.Aku akan berpura pura
tegar,berikan senyum menguatkan.Sepersekian detik melihat dia,priaku,,aku
menyerah.Anak sungai di mataku sudah mendesak,penuh,lalu runtuh.Langkahku terseok
membawa sendu itu lari,tak ada lagi santun berpamitaan.Lidahku sungguh teramat
patah-patah di buatnya.
Derak rantig tua yang
patah ku injak mewakilkan perasaanku saat itu,hilang arah.Aku pertanyakan lagi
padaMu yang katanya Sang Maha Cinta.Kenapa harus dia?Kenapa wanita itu bukan
aku?Karena aku masih kecilkah?Tapi nanti aku juga dewasa,.Karena aku belum
kerjakah?Tapi aku akan menjadi seorang wanita dengan kerja tetap setidaknya
ijazahku nanti bisa ku manfaatkan dan ku pastikan aku bekerja.Karena aku masih
jauh dari imanku padaMu?Tapi bersamanya aku ingin merengkuhMu,ingin dia
membimbingku bertemu padaMu pemilik berhak atas hidup dan matiku.Karena aku tak
cantikkah?Tapi nanti aku bisa lebih merawat diri.
Pertanyaan dengan
jawaban yang ku buat-buat sendiri melalang buana menghantarkan gundahku.Frase
adil atau tidak menyakitkanku. Tarikan nafasku serasa tak searah,ini lebih dari
berdarah.Kata sakit terpatri sendiri,menyusup pada tombol tombol handphone yang
terbiasa menuliskan namanya pada pagi sebelum ada matahari.Kata pilu terlukis
sendiri,pada torehan lembut suaranya saat malam mendingin dengan rangkaian
kisah rahasia aku dan dia.Tak ada pun seorang manusia yang boleh tahu
pergelutan cinta kita yang bertumpu pada kisah yang salah,salah pada
wanitanya,salah pada temannya.
_ - _ - _
Hujan masih mengguyur
begitu hebat,menggerus tanah disekitar pohon keladi merah kecilku. Daunnya kini
benar benar tumpang tak tertopang,ku ambilkan lidi untuk sedikit mampu
mengajaknya berdiri.Namun sayang,hujan teramat kejam menghantarkan ribuan bulir
pada dedaunan keladi kecil yang sedang bersuka menggantungkan harap pada hujan
dan bau tanah yang menentramkannya.Lalu hujan menimbulkan genangan air pada
tanah pot bunga keladi kecilku,datang berguyur membuat riak.Dan siapa yang peduli
pada riak itu,sekejap saja sudah hilang,terlupakan bahkan tak tercatat.Bahkan
juga siapa yang akan peduli pada daun keladi merah kecilku yang kini tumbang
dan memucat saat hujan tengah di sambut penghuni alam dengan suka cita.Tapi
keladi kecil itu masih punya Kau yang mampu terbitkan harapan,meski hujan masih
belum berhenti.Selamanya keladi kecil itu takkan membenci hujan. Setidaknya
hujan telah menetramkan sisi hidup yang lainnya. Bahkan sepertinya keladi kecil
itu pada hujan yang memberikan padanya kehidupannya lebih berarti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar