Senja
adalah teman terbaiknya wanita separuh baya ini selain aku.Segelas kopi hitam
dengan sepotong roti hambar atau bahkan cake sekalipun di lalapnya.Entah apa
yang dia rasa saat sinar emas perudu itu mengitari rumahnya yang bak mencakar
langit.Sekalipun aku tak paham,jika jingga sudah lagakkan diri pasti ia akan
mengambil tempat di jendela paling atas dengan sebuah kursi jati yang katanya
takkan lapuk di makan bubuk.
Ia
akan menikmati satu atau dua kali seduhan dan dua atau tiga kali gigitan untuk
sepotong roti kemudian menyuguhkannya padaku tapi tak banyak bicara.Lalu aku
dengan senangnya menggapai gapai roti itu tapi sesekali ia menarik kecil tali di
tangannya hingga aku hampir saja tersedak dan tercekik,itu pertanda bahwa aku
tak boleh berisik melahap sisa makananku.
Tapi
aku bingung,gurat gurat yang menjalar di keningnya serta tatapan nanar matanya
seolah gambarkan tentang luka yang menganga.Kenapa dengan senja?Ia mengutuk
senja?Kecewa pada senja?Bahagia?Berterimakasih pada senja?Atau apa.Entahlah,hening
adalah cara terbaiknya menyusul jingga.
Senja
telah memudar,garis jingganya nan elok telah tenggelam pada garis pekatnya
tirai tirai malam yang mulai terkembang saat itu si wanita pun melenggok pergi.Namun
senja kali ini berbeda,tak seperti hari-hari sebelumnya.Wanita itu berdiri
persis di depan pintu kamar anaknya yang menganga,menatap lama lama kamar
itu.Tak ada suara,tak ada seseorang pun di sana.Hanya terlihat gorden di
jendela itu sesekali bergoyang dan melambai tertiup angin.
“Maaf bu,tadi saya lupa menutup
pintu.Kamar Teteh sudah lama tak di tempati jadi saya berpikir untuk
membersihkannya,daripada banyak debu nanti”Pembantu wanita itu datang terpongah
pongah.
Persis dugaan ku.Ia pasti akan diam saja dan tetap
mematung di ujung pintu itu.Akh aku bosan menunggunya yang hanya diam seperti
patung penjaga.Namun dari sudut ini aku di goda oleh lukisan sosok cantik
perempuan muda berbaju hitam yang lengkung alisnya tergores lembut, dengan sepasang
mata menampakkan suka.Garis bibir dan dagunya indah bagai siluet senja pamerkan
kemolekan wajahnya.Ku dekati lukisan itu,ku katakan. “Ayo lihat kemari
nyonya,indah.”Namun wanita itu masih saja berdiam.
“Ayo masuk lah nyonya,kemarilah.Lihat ini.Lihat ini.”
Aku berkata bahkan sudah sangat keras,buktinya kaca di
dinding itu saja bergetar memantulkan suara lolonganku yang keras dan menyalak
nyalak dengan oktaf tertinggi.Dan
benar,pelan pelan wanita itu menapakkan kakinya di karpet ini.Lalu sama
sepertiku,menikmati pesona gadis manis di lukisan itu.Tapi tak seriang
diriku,ia pandang gadis semolek itu dengan tatapan hambar dan garis wajah yang
penuh beban tertahan.
“Coba saja kau tak membunuhnya”Terdengar suara berat
yang tiba tiba menggangu ketenanganku dan wanita tua tanggung ini.
“Handoko”
Wanita itu mendekati sosok laki laki muda gagah dan
kekar di depannya,.Garis wajahnya lugas.Jika saja aku bisa,ingin rasanya aku
mengadopsi rupa sosok wanita muda pada kanvas tadi untuk membuat jejaka ini
bertekuk lutut padaku.Sungguh aku terpana.Siapakah pemuda gagah ini?
Garis bibir wanita separuh baya berbeda,ia yang selama
ini hanya datar bahkan ia tak ingat lagi untuk tersenyum,sekarang garis itu
melengkung di sudut bibirnya,menarik saraf saraf yang selama ini tengang hingga
membentuk sebuah ekspresi wajah yang di sebut kalangan manusia “senyum”
“Kapan kau pulang nak?”Tangan wanita itu memegang
lembut pipi pemuda yang bak bulan purnama eloknya.“Tak perlu kau basa basi
padaku!”Jawabnya.Bola api di mata pemuda itu menyala,yang siap membakar siapa
saja didekatnnya dan dengan kasar merenggut paksa tangan keriput wanita itu.
Aku tak bisa diam saja menikmati itu menjadi penonton
sinetron yang hanya menunggu ending saja setelah beberapa lama di pusingkan
dengan tulisan bersambung saat cerita
tengah berjalan.
“Jangan ganggu,nyonya.Jangan ganggu”Aku berteriak
sangat keras dan takut takut mendekati pemuda itu.Terus terusan aku berteriak
hingga ruangan ini riuh.
“Kau kenapa nak?”Tanya wanita itu lagi tanpa
mengacuhkan teriakanku.
“Jangan kau tanya lagi aku kenapa?Kenapa kau berdiri
di depan fhoto adikku?Kau pura pura rindu??”Ceracaunya tanpa henti.
Aku semakin kehilangan arah melihat pemuda yang ku
kira ramah itu menjadi sosok hantu sangar dan haus darah yang sesuka hatinya
membuat nyonyaku menangis tersedu sedu.
“Hentikan”Teriakku lalu menggapai gapai celana
jinsnya.
“Diam kau anjing bodoh,bukan aku yang seharusnya kau
musuhi.Tapi dia.Tuan kau,lihatlah dia telah membunuh adikku yang katanya anak
perempuannya.Sama saja perangainya dengan kau,melolong,menyalak pada orang baru
yang belum di kenal.”Hardiknya.Tangisan wanita itu semakin terisak.Tentu saja
aku semakin gusar melihatnya,ku tarik tarik ujung celana pemuda durhaka itu bukan
untuk bersujud minta maaf pada tuanku tapi paling tidak ia diam dan tak
menghardik lagi.
Ia menendangku.“Tapi sekarang apa gunanya menangis,air
mata munafik.Lalu apa gunanya juga berpura pura rindu dengan menatap wajah
adikku di lukisan itu lama lama.Tak pantas lagi ku sebut IBU,sebuah panggilan
yang tak layak di pakai.Ibu macam apa yang sibuk mencumbu waktunya dengan
kerja,yang merenggut kebahagiaan anak dengan memisahkan mereka dengan
ayahnya,yang menjadikan anaknya boneka,mengikuti semua maunya hingga membuat
adikku,mati.Ya,MATI..Karena ulah wanita yang di hormati itu,wanita kaya yang
mementingkan derajat dan martabat diri sendiri di depan kawan kawannya.WANITA
yang malas tak bisa ku sebut ibu itu menjadikan anaknya mayat karena memaksakan
kehendak dan mementigkan gengsinya,yang tak bisa menerima kenyataan bahwa anak
perempuannya lebih suka berkutat dengan Ilmu Tanah daripada mengambil
kedokteran yang di jadikan kedok untuk pujian orang baginya.Kemudian juga memangkas
habis kisah cinta adikku dengan semena mena menghardik kekasihnya yang dari
kalangan orang tak punya itu.Dan hebat,adikku perempuan yang hebat.Ia rela
menggantungkan hidupnya pada seutas tali kebebasan.Dimana tali itu telah
membawanya pada keadaan lepas,tanpa beban dan tanpa martabat yang di tumpangkan
ibunya padanya.Tali itu juga mengajaknya berkubur dan menyatu pada tanah yang
membungkus cinta dan impiannya pada tubuh yang kaku.Sekarang berbahagialah
kau,nikmatilah kemewahan kau.Wahai Wanita Kaya.”Gumamnya lalu melangkah.
“Dooorrr” pemuda gagah itu jatuh bersimbah darah dan
wanita paruh baya itu tertawa lepas,lalu menangis dan tertawa lebih keras lagi.Senapan
di tangannya bergetar ikut tertawa berasamanya.
“Daaarrrrr” Pandanganku nanar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar