Senin, 27 Januari 2014

Nanar



Senja adalah teman terbaiknya wanita separuh baya ini selain aku.Segelas kopi hitam dengan sepotong roti hambar atau bahkan cake sekalipun di lalapnya.Entah apa yang dia rasa saat sinar emas perudu itu mengitari rumahnya yang bak mencakar langit.Sekalipun aku tak paham,jika jingga sudah lagakkan diri pasti ia akan mengambil tempat di jendela paling atas dengan sebuah kursi jati yang katanya takkan lapuk di makan bubuk.
Ia akan menikmati satu atau dua kali seduhan dan dua atau tiga kali gigitan untuk sepotong roti kemudian menyuguhkannya padaku tapi tak banyak bicara.Lalu aku dengan senangnya menggapai gapai roti itu tapi sesekali ia menarik kecil tali di tangannya hingga aku hampir saja tersedak dan tercekik,itu pertanda bahwa aku tak boleh berisik melahap sisa makananku.
Tapi aku bingung,gurat gurat yang menjalar di keningnya serta tatapan nanar matanya seolah gambarkan tentang luka yang menganga.Kenapa dengan senja?Ia mengutuk senja?Kecewa pada senja?Bahagia?Berterimakasih pada senja?Atau apa.Entahlah,hening adalah cara terbaiknya menyusul jingga.
Senja telah memudar,garis jingganya nan elok telah tenggelam pada garis pekatnya tirai tirai malam yang mulai terkembang saat itu si wanita pun melenggok pergi.Namun senja kali ini berbeda,tak seperti hari-hari sebelumnya.Wanita itu berdiri persis di depan pintu kamar anaknya yang menganga,menatap lama lama kamar itu.Tak ada suara,tak ada seseorang pun di sana.Hanya terlihat gorden di jendela itu sesekali bergoyang dan melambai tertiup angin.
“Maaf bu,tadi saya lupa menutup pintu.Kamar Teteh sudah lama tak di tempati jadi saya berpikir untuk membersihkannya,daripada banyak debu nanti”Pembantu wanita itu datang terpongah pongah.
Persis dugaan ku.Ia pasti akan diam saja dan tetap mematung di ujung pintu itu.Akh aku bosan menunggunya yang hanya diam seperti patung penjaga.Namun dari sudut ini aku di goda oleh lukisan sosok cantik perempuan muda berbaju hitam yang lengkung alisnya tergores lembut, dengan sepasang mata menampakkan suka.Garis bibir dan dagunya indah bagai siluet senja pamerkan kemolekan wajahnya.Ku dekati lukisan itu,ku katakan. “Ayo lihat kemari nyonya,indah.”Namun wanita itu masih saja berdiam.
“Ayo masuk lah nyonya,kemarilah.Lihat ini.Lihat ini.”
Aku berkata bahkan sudah sangat keras,buktinya kaca di dinding itu saja bergetar memantulkan suara lolonganku yang keras dan menyalak nyalak dengan oktaf  tertinggi.Dan benar,pelan pelan wanita itu menapakkan kakinya di karpet ini.Lalu sama sepertiku,menikmati pesona gadis manis di lukisan itu.Tapi tak seriang diriku,ia pandang gadis semolek itu dengan tatapan hambar dan garis wajah yang penuh beban tertahan.
“Coba saja kau tak membunuhnya”Terdengar suara berat yang tiba tiba menggangu ketenanganku dan wanita tua tanggung ini.
“Handoko”
Wanita itu mendekati sosok laki laki muda gagah dan kekar di depannya,.Garis wajahnya lugas.Jika saja aku bisa,ingin rasanya aku mengadopsi rupa sosok wanita muda pada kanvas tadi untuk membuat jejaka ini bertekuk lutut padaku.Sungguh aku terpana.Siapakah pemuda gagah ini?
Garis bibir wanita separuh baya berbeda,ia yang selama ini hanya datar bahkan ia tak ingat lagi untuk tersenyum,sekarang garis itu melengkung di sudut bibirnya,menarik saraf saraf yang selama ini tengang hingga membentuk sebuah ekspresi wajah yang di sebut kalangan manusia “senyum”
“Kapan kau pulang nak?”Tangan wanita itu memegang lembut pipi pemuda yang bak bulan purnama eloknya.“Tak perlu kau basa basi padaku!”Jawabnya.Bola api di mata pemuda itu menyala,yang siap membakar siapa saja didekatnnya dan dengan kasar merenggut paksa tangan keriput wanita itu.
Aku tak bisa diam saja menikmati itu menjadi penonton sinetron yang hanya menunggu ending saja setelah beberapa lama di pusingkan dengan tulisan bersambung saat cerita tengah berjalan.
“Jangan ganggu,nyonya.Jangan ganggu”Aku berteriak sangat keras dan takut takut mendekati pemuda itu.Terus terusan aku berteriak hingga ruangan ini riuh.
“Kau kenapa nak?”Tanya wanita itu lagi tanpa mengacuhkan teriakanku.
“Jangan kau tanya lagi aku kenapa?Kenapa kau berdiri di depan fhoto adikku?Kau pura pura rindu??”Ceracaunya tanpa henti.
Aku semakin kehilangan arah melihat pemuda yang ku kira ramah itu menjadi sosok hantu sangar dan haus darah yang sesuka hatinya membuat nyonyaku menangis tersedu sedu.
“Hentikan”Teriakku lalu menggapai gapai celana jinsnya.
“Diam kau anjing bodoh,bukan aku yang seharusnya kau musuhi.Tapi dia.Tuan kau,lihatlah dia telah membunuh adikku yang katanya anak perempuannya.Sama saja perangainya dengan kau,melolong,menyalak pada orang baru yang belum di kenal.”Hardiknya.Tangisan wanita itu semakin terisak.Tentu saja aku semakin gusar melihatnya,ku tarik tarik ujung celana pemuda durhaka itu bukan untuk bersujud minta maaf pada tuanku tapi paling tidak ia diam dan tak menghardik lagi.
Ia menendangku.“Tapi sekarang apa gunanya menangis,air mata munafik.Lalu apa gunanya juga berpura pura rindu dengan menatap wajah adikku di lukisan itu lama lama.Tak pantas lagi ku sebut IBU,sebuah panggilan yang tak layak di pakai.Ibu macam apa yang sibuk mencumbu waktunya dengan kerja,yang merenggut kebahagiaan anak dengan memisahkan mereka dengan ayahnya,yang menjadikan anaknya boneka,mengikuti semua maunya hingga membuat adikku,mati.Ya,MATI..Karena ulah wanita yang di hormati itu,wanita kaya yang mementingkan derajat dan martabat diri sendiri di depan kawan kawannya.WANITA yang malas tak bisa ku sebut ibu itu menjadikan anaknya mayat karena memaksakan kehendak dan mementigkan gengsinya,yang tak bisa menerima kenyataan bahwa anak perempuannya lebih suka berkutat dengan Ilmu Tanah daripada mengambil kedokteran yang di jadikan kedok untuk pujian orang baginya.Kemudian juga memangkas habis kisah cinta adikku dengan semena mena menghardik kekasihnya yang dari kalangan orang tak punya itu.Dan hebat,adikku perempuan yang hebat.Ia rela menggantungkan hidupnya pada seutas tali kebebasan.Dimana tali itu telah membawanya pada keadaan lepas,tanpa beban dan tanpa martabat yang di tumpangkan ibunya padanya.Tali itu juga mengajaknya berkubur dan menyatu pada tanah yang membungkus cinta dan impiannya pada tubuh yang kaku.Sekarang berbahagialah kau,nikmatilah kemewahan kau.Wahai Wanita Kaya.”Gumamnya lalu melangkah.
“Dooorrr” pemuda gagah itu jatuh bersimbah darah dan wanita paruh baya itu tertawa lepas,lalu menangis dan tertawa lebih keras lagi.Senapan di tangannya bergetar ikut tertawa berasamanya.
“Daaarrrrr” Pandanganku nanar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar